Sabtu, 18 Desember 2010

MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI PENDEKATAN DAKWAH SISTEM LANGSUNG (DSL) DAN PEMBELAJARAN BERBASIS FITHRAH (PBF) DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

I.    PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah
      Pelajaran agama yang diterapkan di sekolah-sekolah umum, biasanya kurang diminati peserta didik. Ini boleh jadi lantaran sistem pembelajarannya yang kurang menarik. Disi lain, perilaku dan akhlak sebagian peserta didik sangat jauh disparitas antara cita dan fakta.  Data menunjukkan kenakalan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan gaya hidup permisivisme semakin meningkat, kebiasaan bergerombol dipinggir jalan dan mejeng di pusat perbelanjaan (Mall) telah menjadi hal yang biasa.  Semua ini menjadi bukti, ada yang salah dalam proses pendidikan, diperparah lagi dengan orientasi yang tidak benar yang dilakukan sebagian lembaga pendidikan.
Disamping itu, keterbatasan waktu 2 jam pelajaran perminggu, ditambah belum efektif dan efesiennya pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah- sekolah umum dalam membina keagamaan siswa baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler belum dikelola secara baik dan berkesinambungan makin memperparah fenomena kerusakan akhlak dikalangan peserta didik.
Mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi, aspek kualitas yang perlu dibangun pada setiap diri peserta didik, tidak terbatas pada sisi jasmani dan mental kecerdasan saja, tetapi meliputi kemampuan peserta didik menapis (filter) pengaruh perubahan zaman.  Kekuatan daya tapis ini banyak ditentukan dari tingkat penghayatan dan pengamalan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah dimiliki masing-masing peserta didik.
Kondisi inilah yang melatar belakangi kami, merumuskan model pembelajaran pendidikan agama di sekolah umum, khususnya di SMA/SMK Provinsi DKI Jakarta, dengan membuat model pembelajaran dengan pendekatan Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai paradigma baru dalam pembelajaran pendidikan agama Islam disekolah.
Metode ini, sebagai upaya perbaikan moral dikalangan peserta didik, melalui perubahan paradigma pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Yaitu membentuk peserta didik untuk mempraktikkan (aplikatif) aspek pengajaran agama baik aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif dalam kehidupan sehari-hari serta mengembangkan potensi fithrahnya dengan baik.
B.  Tujuan Pembelajaran PAI dengan Pendekatan DSL

Mengapa Dakwah Sistem Langsung ( DSL ) ?

Dakwah Sistem Langsung (DSL), adalah bentuk Tarbiyah Islamiyah, berdasarkan metode yang dicontohkan Rasullulah SAW. berisi bimbingan dan pembinaan keagamaan peserta didik secara integral dan berkesinambungan yang mengintegrasikan antara kegiatan belajar mengajar (KBM) dikelas ( intrakulikuler) dan kegiatan peserta didik diluar jam pelajaran (ekstrakurikuler). Setiap kelas peserta didik dibagi  menjadi kelompok-kelompok yang terdiri antara 5-10 peserta didik, setiap kelompok dipandu dan dibimbing oleh seorang mentor.  Sehingga, peserta didik dapat mengambil peran positif yang mendukung proses menuju kedewasaan berpikir, kemandirian , dan berperilaku akhlakul karimah.

Setidaknya ada tujuh alasan mengembangkan model pembelajaran ini, Pertama, mensiasati keterbatasan jumlah jam pelajaran pendidikan agama,yang hanya dua jam perminggu .Kedua materi muatan kurikulum yang luas. Ketiga, guru agama yang yang belum profesional dan merata kualitasnya. Keempat, penggunaan metode pengajaran yang masih konvensional dan verbalisasi. Kelima hasil penilaian yang masih menekankan pada unsur kognitif dan nilai dakwah. Keenam, menciptakan mentor sebaya sehingga konsep pendidikan agama lebih diakrabi peserta didik. Dan ketujuh , menyikapi situasi dan kesan masyarakat bahwa kenakalan tawuran pelajaran sulit diatasi.
Sistem ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memadukan, mengintegrasikan ,menerapkan pengetahuan , sikap dan keterampilan yang telah dipelajari kedalam situasi nyata, “Baik dilingkungan keluarga , sekolah , maupun dimasyarakat,”





II.  STRATEGI PELAKSANAAN

A.  Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan DSL

Strategi pelaksanaan sistem ini dilakukan melalui tiga pendekatan. Yaitu dalam bentuk belajar mengajar pendidikan agama di kelas, kegiatan tutorial/mentoring diluar kelas dan kegiatan mandiri peserta didik yang meliputi kegiatan keagamaan dirumah, disekolah dan dimasyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini ;


B.  Pola Penyelenggaraan
Bagaimana pola penyelengaraan pembelajaran pendidikan agama dengan pendekatan DSL ini? Kami membaginya dalam tiga tahapan : persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi, guru membagi peserta didik setiap kelas kedalam kelompok binaan antara 5 sampai 10 peserta didik. Tiap kelompok dibimbing seorang mentor dari seksi kerohanian /kakak kelas yang lebih menguasai agama, atau alumni.
Kemudian membuat jaringan pembinaan peserta didik dalam kegiatan mentoring pendidikan agama, mengenalkan program pembelajaran pendidikan agama dalam format Dakwah Sistem Langsung (DSL) kepada peserta didik. Dan melakukan koordinasi dengan seluruh warga sekolah, khususnya wakil kurikulum, guru pembina siswa, guru BP/BK dan wali kelas.

Tahap pelaksanaan mengunakan 3 strategi. Pertama kegiatan intrakurikuler, langkah pembelajarannya meliputi tahap pertama 10-15 menit mengecek, mengulang bacaan Al-Quran peserta didik. Tahap kedua 50-60 menit:pembahasan materi pokok sesuai lesson plan / Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) dengan memakai bahan ajar yang disusun oleh tim IMTAG MGMP PAI. Langkah berikutnya, pembahasan materi meliputi pengantar tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari, manfaat dan tujuannya. Pembahasan kompetensi diawali dengan membaca ayat Al-Quran dan terjemahannya yang menjadi pokok bahasan. Tes penguasaan bahan/materi dan pemahaman Konsolidasi, sebagai usaha pembetulan pemahaman peserta didik yang kurang pas terhadap materi yang dipelajari, mengontrol dan memeriksa pelaksanaan kegiatan mentoring agama dan pembagian tugas berstruktur , belajar mandiri, praktik ibadah, bacaan Al-quran , dan kegiatan keagamaan lainnya.
    
Kedua, kegiatan mentoring ini dilakukan diluar kelas agar peserta didik lebih mengenal, mencintai, dan mengamalkan ajaran agama. Ada lima karakter mentoring : teman sebaya, kakak adik, fun fresh, and focus, tutorial, bimbingan ibadah dan membaca Al-Quran. Lantas program intensif pemberantasan buta huruf Al-Quran , dilanjutkan pertemuan sepekan sekali dengan pokok bahasan meliputi aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, materi tambahan seperti adaptif, produktif, atau bedah buku. Pendekatan ini adalah kegiatan mandiri peserta didik. Ini dilakukan dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Ketiga, kegiatan mandiri peserta didik, dalam hal ini , ada tiga bentuk kegiatan peserta didik yang harus dilaksanakan. Yakni, kegiatan keagamaan disekolah , kegiatan keagamaan dirumah atau keluarga dan kegiatan keagamaan di masyarakat.
Pada tahap ini evaluasi, penilaian mencakup dua aspek. Pertama penilaian proses kegiatan, indikasi keberhasilan 75% jumlah peserta mentor aktif dan 90% kehadiran mentor. Kedua, penilaian hasil . Tolak ukur yang digunakan berdasarkan Penilaian Acuan Patokan yang didasarkan atas nilai dan norma keislaman yang terdiri atas unsur amaliah, praktik keseharian, sikap, pantulan akhlakul karimah dan wawasan keislaman.

C.  Kegiatan Mentoring
Arus globalisasi dan informasi telah mengalir keseluruh segi kehidupan dan membawa dampak bagi manusia yang sebelumnya tak diduga.  Bersamaan dengan itu, pengaruh invasi pemikiran yang dilancarkan orang-orang kafir untuk menghancurkan umat Islam semakin menjadi-jadi. Terbukti dengan semakin banyaknya orang Islam yang tidak tahan terhadap ajaran agamanya sendiri dan semakin jauh dari pedoman hidupnya, yaitu Al-Qur’an dan  Al-Hadist.  Untuk membentengi pengaruh yang negatif, maka penguatan materi Pendidikan Agama Islam dikalangan para peserta didik sangat diperlukan. Materi-materi yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai bahan materi kegiatan mentoring antara lain adalah ;

No.
Kelompok Bahasan
Tema / Materi Kegiatan Mentoring
1.
Aqidah
1.1.  Menuju pemahaman Islam yang utuh
1.2.  Allah SWT sebagai tujuan
1.3.  Muhammad Saw sebagai utusan Allah SWT
1.4.  Dasar hukum Islam
2.
Al-Qur’an
2.1. Intensifikasi Tulis Baca Al-Qur’an
2.2. Tadarrus Al-Qur’an
2.3. Kajian Al-Qur’an tematik sesuai dengan pokok bahasan
3.
Ibadah
3.1. Hakekat Ibadah
3.2. Do’a sebagai inti ibadah
3.3. Peran masjid dalam pemberdayaan potensi umat
3.4. Bagaimana mensikapi khilafah
3.5. Menuju shalat yang khusu’
3.6. Tilawah Al-Qur’an
4.
Muammalah
4.1. Pentingnya pendidikan Islam
4.2. Ukhuwah Islamiyah
4.3. Amal Jama’i
4.4. Menuntut Ilmu
5.
Akhlak
5.1. Manusia / Al Insan
5.2. Rasulullah Saw sebagai teladan
5.3. Meneladani Perjuanagan Sahabat Rasulullah
5.4. Kedudukanwaktu bagi seorang muslim
5.5. Bagaimana pemuda Islam bersikap
5.6. Akhlak terhadap orang tua
6.
Pengembangan
6.1. Bedah buku
6.2. Perkenalan
6.3. Games Islami


III.  Hasil Kegiatan DSL
Berdasarkan penelitian, yang dilakukan oleh Saudara Taufik dkk. mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh September (ITS) Surabaya bahwa tingkat keberhasilan sistem ini mencapai 95%.  Saat ini metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) telah dikembangkan di 150 SMK-SMA di Jakarta dan ditetapkan menjadi program wajib yang harus diikuti tiap siswa SMK di DKI Jakarta dimulai pada  tahun ajaran 2001-Sekarang.
Untuk mengamati pengaruh sistem ini pada angka tawuran pelajar, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh September (ITS) Surabaya (Taufiq ; 2005) melakukan penelitian pelaksanaan Dakwah Sistem Langsung (DSL) di beberapa sekolah SMA-SMK Provinsi DKI Jakarta yang melaksanakan DSL menunjukkan angka penurunan yang siqnifikan. Penelitian yang dilakukan Anwar (2002) juga menyatakan penyelengaraan kegiatan Dakwah Sistem Langsung di SMK Rasera 66 termasuk salah satu lembaga pendidikan yang dianggap cukup berhasil. Hasil ini terbukti dengan adanya pemberitaan dari ANTEVE tentang proses pelaksanaan DSL. Hal itu didasari karena setelah diberlakukan program DSL, frekuensi tawuran yang melibatkan siswa SMK Rasera 66 menurun. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BALITAMAS menyimpulkan, setelah diterapkan program DSL, SMK Pembangunan, SMK Grafika dan SMK Poncol tidak lagi terlibat tawuran. Data kasus tawuran yang dicatat oleh Polda Metrojaya dapat ditunjukkan dalam Gambar 1 sebagai berikut:
Gambar 1: Frekuensi Tawuran Pelajar
Sumber : Polda Metrojaya
Antara tahun 1998 dan 1999 tawuran menurun dari 230 kasus menjadi 193 kasus (sebesar 16%). Pada 2000 terjadi peningkatan 4 kasus (2%). Di tengah tahun 2001, formalisasi Dakwah Sistem Langsung (DSL) mulai berjalan dengan prioritas sekolah yang sering terlibat tawuran dan beberapa sekolah yang dapat menjadi pemantau pelaksanaannya di sekolah lain. Pada tahun 2001 pula mulai terjadi penurunan angka tawuran sebesar 74 kasus (sebesar 38%) menjadi 123 kasus, dari 197 kasus di tahun 2000. Dalam tahun 2002 terjadi penurunan sebanyak dua kasus menjadi 121 kasus. Sepanjang 2003, Polda Metrojaya mencatat terjadinya penurunan jumlah kasus tawuran sebesar 13 kasus, dari 121 kasus menjadi 108 kasus (10%) dan untuk DKI Jakarta secara khusus menjadi 70 kasus.
Pada tahun 2004, secara khusus di DKI Jakarta terjadi penurunan intensitas tawuran sebesar dari 70 kasus menjadi 39 kasus (sebesar 45%) dengan rincian
1.      Di Jakarta Pusat terjadi peningkatan dari 9 kasus menjadi 10 kasus.
2.      Frekuensi tawuran di Jakarta Utara tetap 6 kasus.
3.      Jakarta Barat menurun dari 2 kasus menjadi nihil.
4.      Jakarta Selatan terjadi penurunan 13 kasus, dari 36 kasus menjadi 23 kasus.
5.  Di Jakarta timur terjadi penurunan sebesar 100% dari 17 kasus  menjadi nihil.
Penurunan angka tawuran secara drastis pada tahun 2004 dengan persentase yang terbesar dibandingkan periode sebelumnya, dimungkinkan terjadi karena berubahnya karakter pelajar secara umum di sekolah yang selama ini terlibat tawuran di DKI Jakarta. Fenomena ini menjadi indikasi adanya peran dari program Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan semangat keislaman pelajar serta proses pendampingan yang intens pada pelajar untuk mengarahkan pandangan dan perilaku mereka ke arah yang lebih baik, hingga pada akhirnya mampu mengantisipasi terjadinya tawuran pelajar.
Memang tidak diketahui berapa rasio siswa muslim dengan nonmuslim yang terlibat dalam tawuran yang selama ini terjadi, namun Ketua MGMP PAI SMK DKI Jakarta dari hasil wawancara mengungkapkan, karena sebagian besar pelajar dari SMK yang  siswanya sering terlibat tawuran mayoritas beragama Islam, Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi menggunakan hipotesa bahwa pelaku tawuran mayoritas beragama Islam.
Peningkatan tawuran di Jakarta Pusat dan tidak adanya perubahan angka tawuran di Jakarta Utara dimungkinkan oleh kualitas mentoring yang menurun pada tahun 2004 di wilayah ini. Penurunan kualitas ini secara dominan disebabkan oleh kualitas mentor yang menurun. Hal ini diakui oleh Direktur Yayasan Iqro Club, Asep Iskandar, sebagai akibat dari keterbatasan SDM Yayasan Iqro Club untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan mentor agama Islam, hingga kemudian mentor di sekolah yang kualitas mentoring dinilai sudah baik, berasal dari beberapa siswa yang akhlaknya cukup Islami. Namun tentu saja kemampuan mentor dari siswa yang lebih senior tidak sama dengan mentor lulusan SMA/SMK, baik dari segi pemahaman materi maupun keterampilan memandu mentoring. Hal ini mengindikasikan bahwa proses mentoring yang mampu mengatasi tawuran pelajar bukanlah sekedar formalitas proses mentoring, apalagi pelaksanaan yang tidak teratur, melainkan sebuah proses mentoring yang berkualitas, yakni mentoring yang diselenggarakan dengan manajemen yang teratur, sesuai konsep yang telah tersusun rapi, mentor yang profesional, dan peran serta semua pihak. Kemungkinan yang lain adalah dari pengamatan Ketua MGMP PAI SMK DKI Jakarta yang mengatakan, ”Sekolah-sekolah yang akhir-akhir ini terlibat tewuran lebih banyak didominasi SMA-SMA yang memang belum menerapkan Dakwah Sistem Langsung (DSL) sebagai program wajib bagi siswanya dan SMK-SMK yang belum menerapkan program DSL.”
Dampak dari adanya program Dakwah Sistem Langsung (DSL)  ini ternyata tidak hanya dapat kita lihat dari penurunan jumlah kasus tawuran pelajar di Jakarta, tetapi juga penurunan jumlah pelaku yang terlibat dalam tawuran. Data terlampir digambarkan dalam Gambar 2 berikut ini:
Gambar 2: Jumlah pelaku yang terlibat tawuran
Sumber : Polda Metrojaya
Dari Gambar 2, pada tahun 1999 terjadi peningkatan 189 orang pelaku.Dalam tahun 2000 jumlah pelaku tawuran mengalami penurunan sebesar 578 orang. Namun jika dikaitkan dengan jumlah kasus tawuran, terjadi peningkatan. Kondisi yang berlawanan ini bisa jadi disebabkan kurangnya kesigapan aparat. Pada tahun 2001, Dakwah Sistem Langsung (DSL)  mulai diformalkan, dan dapat dilihat jumlah pelaku tawuran menurun lebih drastis (sebesar 1002 orang) seiring dengan penurunan kasus tawuran. Trend penurunan ini terus mengalami mengalami perkembangan yang positif empat tahun terakhir sejak formalisasi program Dakwah Sistem Langsung (DSL). Dari tahun 2001 hingga 2004 jumlah pelaku tawuran pelajar selalu mengalami penurunan. Pada rentang tahun 2002 terjadi penurunan sebanyak tiga orang, yaitu dari 503 pada 2001 menjadi 500 orang, atau menurun sekitar 0,6%. Begitu juga di 2003, dari 500 pelaku pada 2002 turun menjadi 337 orang (menurun 32,6%). Dan dalam tahun 2004 terjadi penurunan lagi, dari 337 menjadi hanya 116 pelaku. Hal ini berarti pada tahun 2004 terjadi penurunan sebanyak 65,6% dibanding tahun sebelumnya. 
Dapat dilihat dari data-data di atas bahwa Dakwah Sistem Langsung (DSL)  merupakan proses yang mampu melakukan pendidikan moral melalui pengamalan keagamaan secara efektif kepada pelajar, sehingga timbul kesadaran yang tinggi untuk menghindari tawuran tanpa adanya pengawasan pelajar, memiliki kemauan untuk menghindari tawuran. Namun perlu disadari bahwa penurunan tawuran pelajar SMA/SMK di DKI Jakarta bukanlah semata-mata peran tunggal Dakwah Sistem Langsung (DSL), melainkan juga hasil dari upaya sinergis dari berbagai  pihak, baik kalangan pendidikan, ulama, aparat penegak hukum, LSM, pemerintah daerah, dan segenap elemen masyarakat yang peduli terhadap pembinaan moral dan akhlak peserta didik.
Penerapan Pembelajaran Berbasis Fitrah (PBF)
di Depan Kelas

I. Pendahuluan

Bab I Pasal 1 ayat 20 Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  menyatakan; Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa terdapat dua unsur utama dalam proses pembelajaran yaitu; Pertama; Peserta Didik, dan, Kedua; Pendidik dan Sumber Belajar. Diantara keduanya terdapat interaksi. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (Balai Pustaka - 2002), interaksi memiliki arti; saling melakukan aksi, berhubungan, atau mempengaruhi.
Dalam konteks pembelajaran, interaksi yang terjadi adalah interaksi sosial, yaitu hubungan antara perseorangan dengan kelompok (KBBI - 2002), dalam hal ini guru selaku perseorangan berinteraksi dengan sekelompok peserta didik.
Sebagai sebuah sistem, interaksi dalam proses pembelajaran memiliki beberapa komponen yaitu; a) tujuan pengajaran, b) peserta didik, c) guru, d) perencanaan pengajaran, e) strategi pembelajaran, f) media pengajaran, dan   g) evaluasi pengajaran. Implementasi dari proses pembelajaran ini diwujudkan dalam berbagai metode atau model pembelajaran. (Oemar Hamalik-2001). Salah satunya (jika ini dapat diterima sebagai sebuah metode atau model pembelajaran) adalah Pembelajaran Berbasis Fitrah.
PP 19/2005 sebagai penjabaran dari Undang-undang Sisdiknas memuat tentang Pendidikan Kecakapan Hidup antara lain Kecakapan Sosial (PP 19/2005 pasal 13 ayat 1).  Dalam konteks Kecakapan Hidup, intisari dari Pembelajaran Berbasis Fitrah adalah bagaimana kita (dalam hal ini guru) merangsang dan mendorong tumbuhnya kecakapan hidup pada diri peserta didik dalam bentuk kecakapan sosial yang bermuara pada kesadaran diri (self awareness) yang dalam, sehingga setiap peserta didik  menyadari bahwa pada dirinya  terdapat berbagai potensi (kemampuan yang dapat dikembangkan), salah satunya adalah fitrah ruhiyah nya yang suci, dimana dengan fitrah itu setiap  peserta didik dapat “berkomunikasi” dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta, pemilik segala ilmu pengetahuan.
Dr. M. Quraish Shihab, M.A. lewat tulisannya “Wawasan Al Qur’an”, (www. media.isnet.org-2007) menyatakan bahwa dari  segi  bahasa,  kata  fitrah  terambil  dari  akar  kata al-fathr  yang  berarti  belahan,  dan  dari  makna  ini lahir makna-makna lain antara lain "penciptaan" atau "kejadian". Dalam  Al-Quran  kata  ini  dalam  berbagai bentuknya terulang sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam konteks  uraian  tentang  bumi  dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia  baik  dari  sisi  pengakuan  bahwa penciptanya  adalah  Allah,  maupun  dari  segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu  pada surat Ar-Rum ayat 30:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.30:30)
Muhammad Thahir bin  Asyur (2003)  dalam tafsirnya Al-Tahrir  tentang  surat  Ar-Rum di atas sebagaimana yang dapat dibaca di www. media.isnet.org menyatakan bahwa: Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya).
Manusia berjalan dengan kedua kakinya adalah fitrah jasadi (jasmani) nya, kemampuan manusia merumuskan masalah dan mengambil kesimpulan adalah fitrah akliah (akal) nya, kemampuan manusia menerima ilham, dan memanfaatkan bashirah adalah fitrah ruhiyah-nya. Pembelajaran Berbasis Fitrah bertumpu pada Fitrah Ruhiyah peserta didik, dimana bashirah-nya akan mengendalikan akal pikirannya.
Konsepsi fitrah telah ada sejak manusia diciptakan, artinya pada diri setiap orang terdapat potensi fitrah yang senantiasa mendorong manusia berbuat kebajikan, menjadikan dirinya sebagai sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan, bagi sesama manusia. Fitrah bermakna bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa apapun. Seseorang yang kembali kepada fitrahnya, berarti ia mencari kesucian dan keyakinannya yang asli, sebagaimana pada saat ia dilahirkan (karena itu menjelang Hari Raya Iedul Fitri tiap individu Muslim, berkewajiban membayar Zakat Fitrah, zakat untuk menyucikan jiwa). Jiwa manusia condong kepada kebaikan, sebagaimana firman Allah, “....tetapi Allah menjadikan kamu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci pada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana (QS 49: 7-8)
Fitrah sesuai dengan moral Islam yang universal sebagaimana yang tercantum dalam Lima Nilai-nilai Dasar yang harus dipegang oleh manusia. Merujuk kepada www.wikipedia.org-2007, lima nilai dasar ini tercantum dalam Al-Qur'an pada surat Al-An'aam (6:151-153) di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim) adalah:
1.      Tauhid (Nilai Pembebasan)
2.      Nikah (Nilai Keluarga)
3.      Hayat (Nilai Kemanusiaan)
4.      Adil (Nilai Keadilan)
5.      Amanah (Nilai Kejujuran)
Dalam konteks pendidikan, lima nilai dasar ini merupakan  pilar bagi tumbuhnya kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia.
Bab I pasal 1, ayat 1 UU nomor 20/2003 menyatakan; “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Spiritual keagamaan, kemampuan mengendalikan diri, dan akhlak mulia yang terwujud dalam bentuk kepribadian yang “mumpuni” baru dapat melekat pada jiwa peserta didik, jika jiwa itu dikembalikan pada fitrahnya yang suci. Berangkat dari pemahaman inilah penting dikembangkan (sekali lagi jika dapat dianggap sebagai sebuah model pembelajaran) Pembelajaran Berbasis Fitrah.
Beragam metode atau model pembelajaran, terbanyak dipakai oleh guru adalah model pembelajaran berbasis pada kontak langsung guru dengan peserta didik di dalam kelas (direct instruction learning). Lainnya adalah model pembelajaran berbasis pada peserta didik yang aktif, kreatif, dengan suasana yang menyenangkan (quantum teaching learning), model pembelajaran berbasis luar ruang dengan mengacu pada konteks materi yang diajarkan (contextual teaching learning), model pembelajaran berbasis inkubator industri (industrial incubator based learning), model pembelajaran berbasis produksi (production based learning), model pembelajaran berbasis motivasi (motivation based learning), dan terakhir model pembelajaran yang berbasis pada ragam kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik (multiple intelligence based learning).
Model-model pembelajaran di atas umumnya membimbing dan mendorong peserta didik bagaimana memanfaatkan potensi kecerdasan intelektual dari aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (ketrampilan), plus sedikit kecerdasan emosi. Kecerdasan yang ditumbuhkan dengan menggunakan rangsangan dari luar diri peserta didik itu sendiri. Rangsangan ini umumnya berupa perintah dan larangan, baik berupa perintah dan larangan yang bersumber dari agama, perintah dan larangan yang berasal dari orang tua, dari pemerintah, sekolah dan guru. Perintah dan larangan ini biasanya diberikan pada peserta didik dalam bentuk pembelajaran. Perintah shalat dalam Al Qur’an diwujudkan dalam bentuk pembelajaran bagaimana tata cara shalat yang baik, larangan agar tidak mengerjakan perbuatan tercela diwujudkan dalam pembelajaran yang terkait dengan aturan-aturan hukum agama, maupun hukum negara. Perintah agar peserta didik mengetahui kegunaan angka dan makna dari suatu kosa kata diikuti dengan pembelajaran matematika dan bahasa.
Dalam hal pembelajaran bagi anak usia dini, usia SD (dan peserta didik sampai dengan usia kelas II SMP),  pembelajaran membangun kecerdasan dengan menggunakan “rangsangan dari luar diri” peserta didik berupa perintah dan larangan adalah sebuah keniscayaan. Lain halnya bagi bagi peserta didik yang sudah remaja (III SMP, SMA/SMK/MA), perintah dan larangan biasanya memunculkan “perlawanan”.
Dalam konteks, “rangsangan dari luar diri” Abu Sangkan lewat buku yang berjudul “Berguru kepada Allah” (Yayasan Shalat Khusyu’ 2006), menulis, “sekelompok orang Badui datang kepada Rasulullah dan menyatakan diri sudah beriman kepada Allah dan Rasulullah, akan tetapi konsepsi iman seperti ini dibantah langsung oleh Allah saat itu juga, keimanan itu bukan sesuatu yang berasal dari pikiran dan aturan yang ditekankan dari luar dirinya, akan tetapi iman itu berasal dari potensi jiwanya sendiri (fitrah)”.
Orang-orang Arab Badui itu berkata : “Kami telah beriman”. Katakanlah (pada mereka) “kamu belum beriman”, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu...” (QS.49:14).
Mengacu pada makna dan hikmah Surah Al Hujurat ayat 14 di atas, kita dapat membangun suatu asumsi bahwa tunduknya peserta didik pada aturan-aturan sekolah, bagaimana seharusnya menjalani posisi sebagai peserta didik, bagaimana tanggungjawabnya sebagai pelajar dalam mempelajari ilmu pengetahuan bisa jadi lebih banyak dipicu oleh “tekanan” yang diberikan orang tua, sekolah, dan guru, bukan sesuatu yang bersumber dari dalam hatinya sendiri (fitrah dirinya dirinya sendiri). Mereka baru sekedar tunduk untuk mengikuti pelajaran, belum memasukkan ke dalam hatinya bahwa belajar itu adalah suatu kebutuhan.
Model-model pembelajaran yang mendorong tumbuhnya kecerdasan intelektual yang ada saat ini belum menyentuh potensi dasar yang diberikan Tuhan pada manusia yaitu fitrah. Pada satu titik model-model pembelajaran ini akan menghasilkan rasa jenuh, rasa bosan, dirasakan oleh peserta didik namun sulit diungkapkan oleh mereka kepada guru dan orang tua.
Kejenuhan yang dialami oleh peserta didik selama bertahun-tahun  mengkristal dalam bentuk “perlawanan” terhadap situasi dan lingkungan yang dihadapinya. Peserta didik “melawan” dengan cara; malas belajar, tawuran antar sekolah, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tidak memiliki motivasi untuk meraih pengetahuan. Fitrah Ruhiyah mereka jarang disentuh. Mereka mengalami kekeringan rohani.
Kekeringan rohani telah mempertontonkan kepada kita hal-hal yang tidak dapat diterima oleh nurani dan akal sehat. Peristiwa pemukulan yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang menyebabkan kematian praja Clip Muntu, dan penembakan massal yang dilakukan oleh Cho Seung Hui mahasiswa asal Korea Selatan yang menewaskan 32 orang tidak berdosa di Universitas Virginia Tech, Amerika Serikat pada kurun waktu 2007,  adalah fenomena gunung es dari sisi lemah model pembelajaran yang menafikan fitrah manusia. Ilustrasi berikut barangkali dapat mempertegas sisi lemah dari pembelajaran yang menekankan aspek intelektual semata; “Siapa yang mengajari Jeff Weise? Pada 21 Maret 2005, remaja usia 15 tahun itu menembaki kawan-kawannya di sebuah SMA Minnesota-Amerika Serikat. Ia membunuh sembilan orang dan melukai 14 orang lainnya. Dengan senjata yang sama ia membunuh kakeknya di rumah sebelum dia menembak dirinya sendiri. Jeff gambaran anak terasing. Ayahnya bunuh diri empat tahun yang lalu. Ibunya tinggal di rumah perawatan akibat cedera otak. Ia bertanya pada temannya Ryan, “Apakah kamu percaya Tuhan? tanpa menunggu jawaban Ryan ia melepas tembakan, Ryan tewas” (Koran Tempo 14 Maret 2005).
Ada banyak persepsi manusia dalam memaknai jiwa. Bagi penulis, jiwa yang terbelenggu (dan tidak seimbang) sama dengan fitrah yang terkurung dalam sangkar nafsu amarah dan nafsu lawammah, yang membuat seseorang merasa tidak percaya diri, atau merasa hebat, dan sikap mental yang tidak bermanfaat bagi dirinya dan umat manusia. Pembelajaran Berbasis Fitrah ini barangkali dapat dianggap sebagai salah satu cara untuk melepaskan jiwa dari ”belenggu-belenggu” tersebut, disamping tentunya banyak cara-cara lain sesuai dengan keyakinan perseorangan serta budaya yang mewarnai pikiran dan jalan hidupnya.
2. Tujuan
Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Fitrah bertujuan mendorong tumbuh dan berkembangnya;
1)      potensi fitrah ruhiyah,
2)      rasa percaya diri,
3)      kesadaran diri bahwa belajar itu suatu kebutuhan,
4)      kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan,
5)      kecerdasan spiritual yang mendukung kecerdasan intelektual,
6)      kemampuan menggunakan “bashirah” yang ada pada setiap diri peserta didik.
3. Manfaat
Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Fitrah, memberi manfaat kepada peserta didik, antara lain;
a)      hati yang tenang,
b)      lebih percaya diri,
c)      cenderung jujur,
d)     tumbuhnya sikap rendah hati (tidak sombong dan merasa hebat),
e)      Tumbuhnya sikap mental ulet, tabah dan tidak gampang putus asa,
f)       kemampuan yang lebih baik dalam menangkap dan memahami pelajaran,
g)      menghilangkan rasa malas,
h)      mendorong tumbuhnya semangat belajar.

II. Sajian Definisi

1. Bashirah :
Al-Qasyani didalam kitabnya al-Isthilahat al-Sufiyyah, menyatakan al-Bashirah ialah kekuatan hati yang dilimpahi cahaya Ilahi yang dengannya hati dapat melihat hakikat batin sesuatu perkara sebagaimana mata dapat melihat lahiriah sesuatu benda.
Bashirah, adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan
mata kepala. Berbeda dengan qalb/kalbu/hati yang tidak konsisten, bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran. Ia tidak bisa diajak kompromi untuk menyimpang dari kebenaran. Bashirah disebut juga sebagai nurani, dari kata nur, .Bashirah adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati, nurun yaqdzifuhullah fi al qalb. Interospeksi, tangis kesadaran, kecerdasan, religiusitas, god spot,bersumber dari sini. ”Katakan ini adalah jalanku. Aku menyeru kepada Allah atas dasar bashirah. Demikian pula orang‑orang yang mengikutiku”. (QS: Yusuf:108) - Sentra Kerohanian Islam mesin-Industri UGM/http://skimesinindustri.wordpress.com
2. Fitrah :
a.       Merujuk pada KBBI, Fitrah adalah a) sifat asal, b) kesucian, c) bakat, d) pembawaan. Arti lain Fitrah: Sedekah wajib yang diberikan menjelang berakhirnya bulan Ramadhan (KBBI-2002).
b.      Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya) - Muhammad Thahir bin  Asyur.

3. Ilham
Ilham adalah Nur (cahaya) dari Allah. Disebut Nur karena merupakan pencerahan dari hati yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan - Abu Sangkan.


4. Nafsu/Nafs (Jiwa)
Dalam terminologi etika, An Nafs berarti hayalan atau angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Kata ini juga disebut jiwa jasmani atau hawa nafsu – Abu Sangkan.
Jiwa (nafs) merupakan sisi dalam manusia, ia bagaikan ruangan yang sangat luas dan didalamnya terdapat bagian-bagian sebagai subsistemnya, terdiri dari `aql/akal (mind), qalb/kalbu (hati), bashirah (hati nurani), syahwat (motiv) dan hawa (hawa nafsu) - sentra kerohanian islam mesin-industri UGM
5. Nafsu Amarah
Nafsu yang selalu mendorong kepada kejahatan – QS. Yusuf, 12:53
6. Qalbu
Sifat dari jiwa (nafs) – Abu Sangkan.
Qalbu berasal darti akar kata Yuqalibu (bolak-balik/tidak konsisten). Qalbu/Qalb merupakan alat untuk memahami realita,. Sesuatu yang tidak rasional masih bisa difahami oleh qalb . Dalam sistem nafsani (kehidupan) qalb merupakan pusat pengendali sistem , yang memimpin kerja jiwa manusia. Di dalam qalb ada berbagai kekuatan dan penyakit; seperti; iman, cinta dengki, keberanian, kemarahan, kesombongan, kedamaian, kekufuran dan sebagainya. Qalb memiliki otoritas memutuskan sesuatu tindakan, oleh karena itu segala sesuatu yang disadari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa. Apa yang sudah dilupakan oleh qalb masuk kedalam memori nafs (alam bawah sadar), dan apa yang sudah dilupakan terkadang muncul dalam mimpi. Sesuai dengan namanya qalb, ia sering tidak konsisten - sentra kerohanian islam mesin-industri UGM.
7. Ruhiyah
Segala sesuatu yang terkait dengan jiwa yang cenderung pada kesucian, semangat ingin maju, hidup bermartabat - KH. Syaiful Islam Mubarak-www.dpu-online.com-2007

III. Kaitan Fitrah dengan Pembelajaran
Pembelajaran Berbasis Fitrah pada hakekatnya adalah mengajak peserta didik untuk “masuk ke dalam jiwanya” dan menyucikannya. “......sesungguhnya beruntunglah yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya” (QS.91:9-10).
Dengan menyucikan jiwa seseorang akan memperoleh “Bashirah”, Akan tetapi di dalam diri manusia itu ada bashirah (yang tahu) (QS.75:14).
“Bashirah” adalah sesuatu yang bersifat metafisik, para ahli tasawuf menyatakannya sebagai “Aku”, sesuatu yang sangat dekat dengan Allah. Melalui sugesti dan relaksasi peserta didik dapat “masuk ke dalam jiwanya” dan insya Allah memperoleh “bashirah”. Jiwa peserta didik diajak masuk ke alam hakikat, untuk kemudian menyadari bahwa dalam segala situasi, dihadapan Allah manusia itu bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa melainkan hanya seorang Hamba-Nya. Sebagai Hamba Allah, lewat dzikir seiring nafasnya peserta didik punya hak untuk “menghadirkan kekuasaan Allah dalam bentuk bashirah” ke dalam jiwanya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku (katakanlah) Aku dekat (pada mereka). Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku” (QS.2:186).
Ber-dzikir (mengingat Allah) seiring nafas akan menumbuhkan kesadaran batin yang tinggi, jiwa yang tenang. Kondisi ini akan memberi suasana yang kondusif bagi peserta didik untuk mulai membuka buku, membaca buku pelajaran dengan tetap mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya, Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS.96:1-5).
Ayat pada surat Al Alaq di atas dengan tegas menyatakan bahwa sesungguhnya kecerdasan dan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan guru, atau yang dibaca dari buku, akan mudah didapat oleh peserta didik jika pembelajaran dilandasi dengan ingat pada Allah, pemilik segala ilmu. Dalam konteks Pembelajaran Berbasis Fitrah, Surat Al Alaq dapat dijadikan media untuk mambangkitkan motivasi peserta didik bahwa setiap individu bisa menguasai ilmu pengetahuan dengan baik asal ada niat kuat untuk menguasai ilmu itu.

Prof. Dr. Oemar Hamalik lewat bukunya “Proses Belajar Mengajar” (Penerbit Bumi Aksara, hal. 159) menyatakan bahwa motivasi memiliki dua komponen, Pertama; komponen dalam, dan Kedua; komponen luar. Menurut beliau, komponen dalam adalah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, dan ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan sesorang berdasarkan cita-cita-cita yang ingin diwujudkan.
Jika dapat diasumsikan, komponen dalam yang menyebabkan peserta didik tidak puas dan mengalami ketegangan psikologis (sehingga kehilangan motivasi) adalah ketidakmampuan peserta didik mengendalikan dorongan hatinya atau tidak dapat me-“manage” qalbu-nya.
Goleman (1997), sebagaimana yang dikutip oleh Oleh: Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi. lewat tulisan yang berjudul “Mengenal Kecerdasan Emosional Remaja” (http://www.e-psikologi.com-2007) mengatakan bahwa Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positip dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.
Dalam konteks Pembelajaran Berbasis Fitrah cara mengendalikan dorongan hati (qalbu) adalah dengan ber-dzikir (mengingat) Allah (atau Tuhan menurut keyakinan siswa yang bukan Muslim) sehingga peserta didik memiliki kekuatan berpikir positip, selalu optimis, dan mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan derajad kecemasan yang menggelayuti jiwanya..
IV. Analisis Hasil Pembelajaran
Analisis hasil Pembelajaran dengan Pendekatan Berbasis Fitrah berangkat dari dua sudut pandang, Pertama, Kajian Ilmiah Tentang Dzikir, Kedua, Gelombang Otak dan Karakteristik Gelombang Otak. Kedua kajian ini digunakan untuk menganalisis Rasio Tes Tulis antara peserta didik yang sudah mengikuti Pembelajaran dengan Pendekatan Berbasis Fitrah dengan yang belum.
1. Kajian Ilmiah Tentang Dzikir.
Merujuk kepada Setyo Purwanto, Psi (lampiran: Dzikir Dalam Tinjauan Psikologi – dari buku “Belajar Kepada Allah”. Hal.302), setelah terbitnya Journal of Transpersonal Psychology tahun 1969 disiplin ilmu psikologi mulai mengarahkan perhatian pada dimensi spiritual manusia. Aliran psikologi yang memfokuskan diri pada kajian-kajian transpersonal menamakan dirinya aliran psikologi transpersonal dan memproklamirkan diri sebagai aliran ke empat setelah psikoanalisis, behaviourisme, dan humanistik. Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASC (Altered States of Consciousness/tingkat kesadaran yang lebih tinggi dari biasanya), pencapaian taraf kesadaran ASC dilakukan lewat meditasi. Di dalam kajian psikologi, meditasi didefinisikan sebagai usaha membatasi kesadaran pada satu objek simulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu (Ornstein, 1986)
Menurut Haryanto (2001), dzikir sebenarnya merupakan salah satu bentuk meditasi transedental. Dzikir tidak hanya sekedar ucapan (dalam hati), namun dilakukan dengan kesadaran yang benar-benar sadar, dengan totalitas, baik kognitif dan emosi, sehingga pada kondisi tertentu dapat mencapai taraf kesadaran ASC. Kesadaran ini akan membangkitkan gelombang alpha (bekerja pada frekuensi 7-13 Herz) pada otak
2. Gelombang Otak dan Karakteristik Gelombang Otak
Di dalam otak, terdapat empat gelombang otak, yaitu delta, theta, alpha, dan beta. Untuk mengajak manusia pada kondisi rileks, dan tenang, gelombang otak harus mengarah pada alpha (Pikiran Rakyat, Kamis 12 Oktober 2006, http://www.pikiran-rakyat.com).
Tiap gelombang otak memiliki karakteristik yang berbeda, sebagaimana berikut ini:
·        



 
Gelombang Delta mempunyai frekuensi antara 0,5-3,5 Hz, di mana kita berada dalam kondisi tidur nyenyak yang berkualitas (tanpa mimpi).





Sinyal Gelombang Otak 
 

Tabel 2. Pola Gelombang Otak dan Artinya
 

 

             Sumber : Berguru Kepada Allah. Hal. 305
 
TIPE
FREK
TEMPAT/WAKTU
ARTI
DELTA
0,5-3,5 Hz
Tidur nyenyak atau koma
Otak tidak melakukan apa-apa. Sering ditemukan pada otak bayi
THETA
3,5-7 Hz
Tidur yang disertai mimpi pada anak usia 3-6 tahun
Informasi secara berkala dikirim dari satu area ke area lain.
ALPHA
7-13 Hz
Dewasa dan pada anak usia 7-14 tahun
Keadaan Relaxed alertness
BETA
13-30 Hz
Dewasa
Kerja mental yang terkonsentrasi

 
 (http://www.infinite-minds.com)

 
·         Gelombang Theta mempunyai frekuensi antara 3,5-7 hz, di mana kita berada pada alam bawah sadar kita. Theta mencerminkan kondisi rileksasi yang sangat dalam.
·         Gelombang Alpha mempunyai frekuensi antara 7-13 hz, di mana kita berada pada jembatan antara alam sadar dan alam bawah sadar kita. Gelombang Alpha mewakili kondisi pada saat kita santai dengan kesadaran yang tanpa beban. Dengan demikian gelombang alpha sangat kondusif untuk rileksasi, belajar cepat, meningkatkan kreatifitas dan mencapai kinerja puncak. Biasanya orang akan masuk ke dalam gelombang Alpha saat meditasi.
·         Gelombang Beta mempunyai frekuensi antara 13-30 Hz. Frekuensi gelombang beta rendah mencerminkan kondisi kesadaran normal kita sehari-hari. Pada gelombang otak inilah biasanya kegiatan rutin kita berpikir dan beraktifitas terjadi. Gelombang Beta cepat dengan frekuensi yang tinggi mengantarkan kita pada kondisi stres dan kecemasan yang tinggi (Sumber: http://www.infinite-minds.com).

Seperti yang telah diuraikan di muka, Pembelajaran Berbasis Fitrah pada hakekatnya adalah mengajak peserta didik untuk “masuk ke dalam jiwanya” dan menyucikannya.  Dalam konteks psikologi, “masuk ke dalam jiwanya” dapat dimaknai sebagai mengajak peserta didik ber-dzikir agar mendapatkan bentuk kesadaran diri yang tinggi, khususnya taraf kesadaran ASC yaitu tingkat kesadaran yang lebih tinggi dari biasanya (dalam hal ini “Bashirah”, kekuasaan Allah yang tidak kasat mata, bandingkan dengan kerja jantung manusia, kekuasaan Allah yang kasat mata).
Dengan melakukan dzikir secara sadar dan bersungguh-sungguh peserta didik membangkitkan gelombang Alpha di dalam otak, dimana dengan ini peserta didik dapat belajar cepat.

V. Petunjuk Penerapan Pembelajaran Berbasis Fitrah
Penerapan Pembelajaran Berbasis Fitrah di depan kelas dapat dimulai dengan melatih peserta didik “mengenal Allah” melalui gambar-gambar yang ada pada Power Point sebagaimana terlampir pada pada CD.
Rekaman gambar pada power point terbagi dalam dua kategori, yaitu; (a) rekaman gambar dan tulisan sebagai pengantar pelatihan, dan (b) tulisan sebagai bahan pelaksanaan pelatihan.
Rekaman gambar pada butir (a) terbagi dua, yaitu:
1)      rekaman gambar yang berfungsi untuk merangsang tumbuhnya obsesi dan angan-angan duniawi peserta didik, dan
2)      rekaman gambar asma Allah yang tergambar di alam, dan “pesan-pesan” Allah lewat bencana yang terjadi di bumi.
Urut-urutan gambar pada butir 1) adalah:
a.       Mobil sedan mewah kategori sport.
b.      Mobil balap formula 1
c.       Mobil Jeep
d.      Sepeda Motor dan wanita di atasnya.
e.       Pria dengan motor balap.
f.       Sepasang kekasih.
g.      Gambar wajah wanita.
h.      Pesawat terbang
i.        Orang sedang meluncur di salju
j.        Rekreasi dengan sepeda.
k.      Tumpukan uang
l.        “Pohon uang”.
m.    Emas batangan.
n.      Perhiasan wanita.
o.      Pemain musik (band).
p.      Rumah.
q.      Hotel.
r.        Sepasang kekasih sedang berrjemur di pantai.
s.       SEPULUH NILAI KEBAJUKAN
Urut-urutan gambar pada butir 2) adalah:
A.    POSISI INDONESIA DI ATLAS DUNIA
B.     ALAM SEMESTA
C.     KALIGRAFI “ALLAH - MUHAMMAD”
D.    LEDAKAN BINTANG
E.     ASMAUL HUSNA
F.      ASMA “ALLAH” TERTULIS DI AWAN
G.    TULISAN “MUHAMMAD” DI LANGIT
H.    ASMA “ALLAH” DI BUMI
I.       ASMA “ALLAH” TERTULIS DI LANGIT SENJA
J.       ASMA “ALLAH” TERTULIS DI SARANG LEBAH
K.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI BANTANG KAYU
L.     ASMA “ALLAH” TERTULIS DI BUAH TERONG
M.   ASMA “ALLAH” TERTULIS DI BADAN IKAN
N.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI BUAH JAMBU KLUTUK
O.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI BUAH MANGGA
P.      ASMA “ALLAH” TERTULIS DI KAKTUS
Q.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI TELUR AYAM
R.     ASMA “ALLAH” TERTULIS DI LEDAKAN PIPA GAS PERTAMINA
S.      ASMA “ALLAH” TERTULIS DI KUE AGAR-AGAR
T.      KALIMAH “LA ILA HA ILALLAH” TERSUSUN DARI POHON KAYU
U.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI GELOMBANG TSUNAMI
V.    ASMA “ALLAH” TERTULIS DI TANGAN KANAN MANUSIA
W.   MASJID YANG UTUH
X.    MASJIDIL HARAM YANG BERSINAR

Rekaman tulisan pada butir b (pelaksanaan pelatihan) terdiri dari tulisan:
a.       Menggapai Fitrah Ruhiyah.
b.      Kesadaran Diri
c.       Relaksasi
d.      Perolehan Bashirah
e.       “Refresh” Memori
f.       Membangun Visi
g.      “Re-Entry”
h.      Alam Sadar
i.        Evaluasi
VI. Kegunaan Gambar pada butir (a), bagian 1).
1.      Rekaman gambar pada butir a bagian 1) berguna untuk merangsang tumbuhnya nafsu lawwamah (nafsu duniawi) peserta didik. Guru hendaknya mendorong peserta didik melihat dengan seksama gambar yang ada, dan mendorong peserta didik agar melambungkan angan-angannya. Pada moment ini, peserta didik umumnya “lupa kepada Allah”. Hal ini disengaja, agar ada perbandingan kondisi batin peserta didik ketika melihat rekaman gambar pada butir a bagian 2).
2.      Rekaman gambar pada butir a bagian 1) diakhiri dengan tulisan 10 (sepuluh) nilai kebajikan. Dari pelatihan yang pernah diselenggarakan penulis di SMA Negeri 1 Kramat Watu kabupaten Serang-Banten, pada hari Jumat, 28 September 2007, semua peserta pelatihan (80 peserta didik) menyatakan tidak mampu melaksanakan semua butir kebajikan (dalam konteks ini sebaiknya guru menyuruh peserta didik menuliskan di kertas, butir kebajikan mana saja yang tidak dapat dia lakukan).
3.      Sesudah sesi ini, guru hendaknya mengingatkan peserta didik bahwa mereka tidak akan mampu melaksanakan 10 nilai kebajikan, karena mereka terjebak dengan “cinta dunia, takut mati”
4.      Pada paparan gambar butir a bagian 1) peserta didik akan berteriak kegirangan, harap dibiarkan saja, ini pertanda “nafsu duniawinya” sedang keluar.
5.      Masuk ke sesi berikutnya, guru memperlihatkan peta Indonesia di atlas dunia, gambarkan bahwa kita tinggal di planet bumi.
6.      Gambar berikutnya adalah gambar alam semesta, beri pengertian kepada peserta didik, betapa kecilnya bumi di alam semesta, dan betapa kecilnya kita di hadapan Allah.
7.      Selanjutnya guru meminta siswa untuk meresapi kaligrafi “Allah dan Muhammad”, tanya pada mereka, “Apakah mereka yakin dengan Islam yang dianutnya”
8.      Ledakan bintang pada gambar berikut menunjukkan kebenaran Al Qur’an, karena itu dorong peserta didik yang Islam untuk tidak ragu dengan Islam, karena Al Qur’an bukan tulisan nabi Muhammad S.A.W.
9.      Tampilkan Asmaul Husna, tunjukkan salah satu nama Allah adalah “Malik” atau Raja. Kalau Allah Raja, manusia itu Hambanya. Pada titik ini guru mengajak peserta didik untuk menayadari diri bahwa di hadapan Allah semua manusia adalah hamba-Nya. Semua aktifitas dunia yang positip dilakukan dalam rangka: Menghambakan diri kepada Allah.
10.  Berikutnya tunjukkan pada peserta didik “Asma Allah” sebagaimana uraian pada butir V, beri pemahaman pada siswa betapa Allah “mengirim pesan” kepada manusia, bahwa Allah itu Ada, dan Maha Kuasa.
11.  Selanjutnya beri penjelasan pada tulisan yang menyertai gambar-gambar pada power point bagian (a)
12.  lakukan “break” sekitar 15 menit agar peserta didik dapat meresapi dengan caranya sendiri apa yang telah dilihat, dipikirkan dan direnungkan olehnya.
VII. Praktek Pembelajaran Berbasis Fitrah
1.      Paparkan tulisan pada power point bagian (b)
2.      Beri keyakinan dan sugesti yang mendalam bahwa setiap peserta didik dapat memperoleh “Bashirah” yang dapat membuat dia cerdas, dan gampang mengikuti pelajaran. Catatan: Ini sudah terbukti dalam pelatihan yang dilakukan di SMK Negeri 56 Jakarta, dan SMAN 1 Kramat Watu Serang-Banten.
3.      Ajak mereka berdoa dengan yakin dan khusuk, agar Allah memberi mereka “Bashirah”. Pada moment ini ajak peserta didik memejamkan mata, dan menyebut dalam hatinya; “Allah...Allah...” seiring nafasnya yang keluart dan masuk.
4.      Laksanakan butir 3 selama 5 menit. Pada saat ini guru hendaknya mengeluarkan kalimat tayibah yang mendorong peserta didik lebih fokus pada dzikir yang dilakukan seiring nafasnya.
5.      Break..tanya pada peserta didik, apa yang dirasakannya.
6.      Berikutnya paparkan tulisan kedua dari power point, ajak peserta didik kembali memejamkan mata, tanpa mengingat Allah, ajak mereka untuk mengingat kembali masa kecilnya, waktu dia di SD, SMP. Ajak mereka untuk mengingat teman-teman yang menyenangkan hatinya, dan teman-teman yang pernah membuat jengkel dirinya.
7.      Masih dalam kondisi seperti butir 6, ajak peserta didik merencanakan masa depannya.
8.      Break sesaat, tanya peserta didik apa yang dirasakannya.
9.      Paparkan tulisan berikut dari power point, ajak  peserta didik kembali “berdzikir” di dalam hati, mengingat Allah dengan segala kekuasannya, seiring nafas yang masuk dan keluar.
10.  Kembali ke alam sadar, suruh peserta didik membaca buku pelajaran selama 20 menit, setelah itu tanyakan pada mereka, “Apakah mereka mudah memahami materi pelajaran yang dibacanya?”.
11.  Tampilkan tulisan terakhir dari power point, suruh peserta didik menulis kembali, dari 10 nilai kebajikan, butir mana yang tidak mampu mereka lakukan. Bandingkan pernyataan tertulis mereka dengan pernyataan tertulis 10 nilai kebajikan sebelumnya.
Catatan. Sebaiknya semua peserta didik memperoleh pelatihan awal lewat dua paparan dari dua power point. Untuk tahap berikutnya, sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai ajak peserta didik membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan Annas, kemudian ajak mereka “berdzikir” menyebut asma Allah di dalam hati seiring nafas yang masuk dan keluar. Jika ini dijalankan dengan konsisten, yakinlah semua peserta didik akan memperoleh Bashirah yang membuat mereka cerdas, tapi tidak angkuh.


                                                                                              Bogor, 30 Maret 2009